
Rumah Baanjung adalah nama kolektif rumah tradisional suku Banjar di Kalimantan Selatan. Istilah ba-anjung berarti beranjung, yakni sayap bangunan yang menjorok dari sisi kiri dan kanan bangunan induk. Jenis paling agung adalah Rumah Bubungan Tinggi, yang dahulu menjadi bangunan inti kompleks keraton dan disebut Dalam Sirap sebagai kediaman Sultan. Kemegahan bangunan menandai status sosial pemiliknya, sehingga pada masanya hanya kaum bangsawan dan orang berada yang mampu mendirikannya.
Yang membedakan Baanjung adalah atapnya yang menjulang tajam hingga sekitar 45 derajat, ditopang tiang kayu ulin pilihan di atas tanah rawa tepi sungai. Rumah ini juga merupakan lambang mikrokosmos: atap melambangkan dunia atas, rumah panggung melambangkan dunia bawah. Ukuran, jumlah anak tangga, hingga banyaknya hiasan sengaja dibuat ganjil karena diyakini bernilai sakral. Lantainya dibagi berjenjang sesuai hierarki penghuni. Tiang-tiangnya ditata simetris mengikuti keyakinan akan keseimbangan dunia.
Bubungan melancip dengan kemiringan sekitar 45 derajat, berpenutup sirap kayu ulin atau atap rumbia. Bentuknya menjadi ikon rumah Banjar dan diyakini melambangkan hubungan manusia dengan dunia atas.
Delapan tiang besar penyangga bubungan di ruang Palidangan. Tiang ini menanggung beban atap utama sehingga diperlakukan istimewa dan sering diberi ukiran kaligrafi atau motif floral.
Tangga masuk selalu berjumlah anak ganjil sesuai kepercayaan. Jumlah ganjil dianggap sakral dan diulang pula pada jumlah hiasan serta layang-layang puncak atap. Anak tangganya lazim memakai bahan kayu ulin yang keras.
Dinding disusun dari papan yang dipasang tegak, direkatkan memakai Turus Tawing dan Balabad di samping tiang, bukan paku. Motif tatah surut dan baluang menghiasi bidang konstruktifnya.
Lantai papan ulin selebar 10 cm yang disusun berjarak, berbeda dari lantai biasa berpapan 20 cm. Dipakai di ruang basah seperti serambi muka dan ruang pembasuhan jenazah.
Sayap bangunan yang menjorok ke kiri dan kanan bangunan induk. Anjung kiri untuk melahirkan dan memandikan jenazah, anjung kanan untuk istirahat dan ibadah. Kedua sayap ini membuat denah bangunan tampak simetris dari depan.
Baanjung berdiri dalam keluarga besar rumah Banjar yang jumlahnya belasan jenis, mulai dari Bubungan Tinggi hingga Gajah Baliku, Palimasan, Balai Laki, dan Cacak Burung. Perbandingannya kerap ditarik dengan rumah Joglo Jawa karena keduanya dipakai sebagai kedhaton raja, meski Baanjung dibangun berpanggung di atas rawa. Kemiripan bentuk anjung juga dikaitkan dengan rumah adat Suku Dayak Maanyan, jejak pertemuan tradisi Kaharingan dan pengaruh Islam.
Tantangan pelestariannya berat. Sejak 1930-an minat membangun Baanjung menurun karena biaya kayu ulin mahal dan warga beralih ke rumah modern. Banyak bangunan asli lapuk dimakan zaman atau beralih fungsi menjadi objek wisata. Upaya konservasi antara lain dilakukan lewat replika di taman budaya, anjungan daerah di TMII, dan dokumentasi gambar konstruksi oleh Museum Lambung Mangkurat, Banjarbaru.