
Rumah Belah Bubung adalah rumah tinggal Melayu Kepulauan Riau, dikenal juga sebagai rumah Rabung atau Rumah Bubung Melayu. Namanya merujuk atap yang memiliki dua bubung; pertemuan keduanya membentuk celah sehingga atap tampak terbelah dan mirip pelana kuda. Bentuknya rumah panggung bertiang 1,5–2,4 meter, berdinding papan setebal 3–5 sentimeter, beratap daun nipah atau rumbia yang diikat rotan, serta berlantai papan disusun rapi.
Karena wilayah Kepri berupa gugusan pulau, rumah ini menghadap laut atau jalan, bukan sungai seperti di Riau daratan. Besar rumah ditentukan kemampuan pemiliknya, tetapi ukurannya tetap dihitung dengan hasta satu sampai lima dan harus jatuh pada hitungan riak meniti kumbang berteduh agar serasi dengan penghuninya. Atapnya dibedakan menurut kecuraman: lipat pandan curam, lipat kajang landai, dan atap layar yang berlapis dua.
Atapnya memiliki dua bubung yang bertemu membentuk celah, sehingga tampak terbelah seperti pelana kuda. Kecuramannya menentukan jenis: lipat pandan curam, lipat kajang landai, dan atap layar berlapis dua.
Rumah berdiri di atas tiang kayu setinggi 1,5–2,4 meter dari tanah. Ketinggian ini melindungi penghuni dari air pasang, binatang, dan kelembapan pesisir yang tinggi sepanjang tahun.
Dinding dibuat dari papan setebal 3–5 sentimeter yang disusun pada rangka tiang. Ketebalan itu cukup kuat menahan angin laut namun ringan, sehingga rumah tetap sejuk dan mudah diperbaiki.
Tiang, gelegar, bendul, dan rusuk kayu membentuk kerangka utama tanpa paku besar. Sambungan memakai pasak dan ikatan sehingga bangunan lentur saat diterpa angin kencang dari Selat Malaka.
Penutup atap dari daun nipah atau rumbia diikat rotan pada tulang atap. Ikat rotan memungkinkan penggantian lembaran daun secara bertahap tanpa membongkar seluruh bubungan yang sudah tersusun.
Selasar sempit bernama telo menghubungkan rumah induk dengan dapur di belakang. Fungsinya sebagai zona pemisah agar asap dan panas dapur tidak langsung masuk ke ruang tidur keluarga.
Di Semenanjung Melayu dan Kepulauan Riau, Belah Bubung menjadi hunian keluarga, berbeda dari Selaso Jatuh Kembar di Riau daratan yang berfungsi sebagai balai adat. Keduanya berbagi ciri: panggung, atap miring, dan ukiran bermakna. Namun rumah Kepri menghadap laut atau jalan karena wilayahnya gugusan pulau, sementara rumah Riau daratan umumnya menghadap sungai. Hitungan hasta dan kepercayaan pada urutan riak meniti kumbang berteduh menunjukkan bahwa ukuran rumah dianggap menentukan keserasian hidup penghuninya.
Pelestarian Belah Bubung berjalan lewat pencatatan adat dan pengenalan rumah contoh di pusat kebudayaan Kepri. Seperti di banyak daerah Melayu, daun nipah dan rumbia makin jarang dipakai karena warga beralih ke seng dan beton yang dianggap lebih praktis. Urbanisasi di Batam dan Tanjungpinang juga menggeser pola permukiman panggung di tepi air. Upaya menjaga tradisi kini bertumpu pada lembaga adat Melayu, festival budaya, dokumentasi ukuran dan aturan membangun, serta bangunan peraga yang dirawat untuk pendidikan generasi muda.