← Atlas Rumah Adat Nusantara
Bengkulu · Rejang · Melayu

Rumah Bubungan LimaLima Bubungan Bersusun

LIHAT MODEL 3D INTERAKTIF
ProvinsiBengkulu
SukuRejang · Melayu
Bentang± 19 m
Tinggi± 12 m
Rumah Bubungan Lima — model 3D

Filosofi & Makna

Rumah Bubungan Lima adalah rumah adat Provinsi Bengkulu, khususnya masyarakat Rejang dan Melayu Bengkulu. Namanya diambil dari atap berbentuk limas bertingkat lima yang melambangkan tingkatan sosial dan adat. Rumah ini berbentuk panggung dengan bahan utama kayu dan dahulu beratap ijuk enau atau rumbia. Bangunan seperti ini bukan sekadar hunian, tetapi menjadi tempat musyawarah, penyambutan tamu, dan upacara pernikahan adat. Setiap unsur arsitekturnya dikaitkan dengan nilai adat masyarakat setempat.

Rumah berdiri di atas tiang setinggi sekitar 1,5 hingga 2 meter dari tanah untuk menghindari banjir, serangan binatang liar, dan menjaga sirkulasi udara. Kayu yang dipilih bukan sembarang kayu, melainkan kayu medang kemuning yang dikenal kuat dan tahan lama. Setiap bagian bangunan dipandang mengandung makna: bagian atas melambangkan hubungan dengan Tuhan, bagian tengah keharmonisan antarmanusia, dan bagian bawah penghormatan kepada alam serta makhluk lain.

Tata Ruang Dalam

Anatomi Bangunan

Atap Limas Bertingkat Lima

Atap berbentuk limas dengan lima bubungan bertingkat sebagai ciri utama. Bentuknya melambangkan strata sosial masyarakat Rejang dan berfungsi mengalirkan air hujan sekaligus menambah ketinggian bangunan.

Tiang Penopang

Sekitar 15 tiang kayu medang kemuning menopang seluruh bangunan panggung setinggi kurang lebih 1,8 meter. Kayu medang dipilih karena kuat dan tahan lama terhadap cuaca lembap.

Tangga Ganjil

Tangga masuk dibuat dengan jumlah anak ganjil sesuai kepercayaan. Jumlah ganjil disimbolkan sebagai nilai ketuhanan dan menjadi salah satu ciri khas rumah adat Bengkulu. Kebiasaan ini diulang pada hampir seluruh rumah adat Bengkulu.

Umpak dan Balok Lantai

Tiang berdiri di atas lapik batu sebagai fondasi rumah. Balok besar, tailan, dan geladak kayu selebar 50 cm menyusun rangka lantai agar kokoh menopang beban ruangan.

Tulusi dan Ragam Ukir

Lubang angin berventilasi yang biasanya terletak di atas pintu dan jendela, dilengkapi ragam ukiran. Selain mengalirkan udara, tulusi menjadi tempat menempelnya ornamen bermakna. Selain itu ukiran tulusi menambah keindahan tampak depan bangunan.

Selembayung

Ornamen pada ujung atap sebagai lambang syukur kepada Tuhan. Bagian atas rumah memang dirancang mewakili hubungan manusia dengan Sang Pencipta. Pemasangannya menyertai ritual tolak bala sebelum bubungan dipasang.

Detail yang Sering Terlewat

Konteks & Warisan

Bubungan Lima berkerabat dengan bangunan panggung Melayu se-Sumatra yang mengangkat lantai untuk bertahan dari banjir dan iklim tropis. Rumah Limas Sumatera Selatan juga memakai atap bertingkat, namun Bubungan Lima khas karena lima bubungannya menandai strata sosial masyarakat Rejang. Bangunan serupa dikaitkan dengan Rumah Adat Rejang Kepahiang di pedalaman Bengkulu, tempat suku Rejang mempertahankan tradisinya meski sejarah asal-usulnya masih diperdebatkan.

Keberadaan rumah asli makin sulit ditemukan. Banyak yang telah berganti menjadi bangunan modern, sementara contoh yang tersisa umumnya berupa replika yang disesuaikan kebutuhan. Penggunaan semen, seng, dan cat menggantikan ijuk serta kayu pilihan mengubah karakter bangunan. Pelestariannya dijalankan melalui program kebudayaan, pendidikan adat, Museum Negeri Bengkulu, dan replika di tempat wisata budaya agar filosofi tiap bagian tetap dipahami generasi berikutnya.

Sumber RujukanWikipedia ID “Rumah Bubungan Lima”; Wikipedia ID “Rumah Adat Rejang Kepahiang”; Antara Bengkulu — Fakta Unik Rumah Tradisional Bubungan Lima; Jurnal PRISMA Universitas Negeri Semarang.
ATLAS RUMAH ADAT NUSANTARA ← Kembali ke Atlas