
Istana Dalam Loka berdiri di Sumbawa Besar sebagai bekas pusat pemerintahan Kesultanan Sumbawa, didirikan tahun 1885 oleh Sultan Muhammad Jalaluddin Syah III. Bangunan induknya bernama Bala Rea, rumah panggung kayu jati seluas 904 meter persegi yang ditopang 99 tiang — angka yang diturunkan dari Asmaul Husna. Nama dalam berarti istana dan loka berarti dunia, sesuai fungsinya sebagai kediaman raja sekaligus pusat negara.
Seluruh tata bangunannya tunduk pada pepatah “adat berenti ko syara, syara barenti ko kitabullah”: adat bersandar pada syariat, syariat bersandar pada Alquran. Karena itu istana menghadap selatan ke arah Bukit Sampar dan alun-alun, hanya punya satu pintu masuk besar tanpa pintu belakang, dan tangganya berjumlah 17 anak tangga seperti jumlah rakaat salat lima waktu. Ornamen ukirnya bermotif lutueng, sulur daun dan bunga khas Samawa.
Sembilan puluh sembilan tiang kayu jati menyangga Bala Rea, dibagi dua jenis: tiang utama yang menahan rangka atap dan tiang pembantu di bawah lantai. Jati dikeringkan alami bertahun-tahun agar tahan rayap.
Tangga depan berupa papan kayu dimiringkan sampai menyentuh tanah, ditempeli potongan kayu kecil sebagai penahan pijakan. Anak tangganya berjumlah tujuh belas, mengikuti jumlah rakaat salat lima waktu.
Lantai hunian berada di atas kolong bertiang, dengan balok induk melintang yang menopang papan lantai. Konstruksi panggung dipilih agar bangunan aman dari banjir dan hawa lembap tanah Sumbawa.
Atap Bala Rea memakai sirap kayu yang ditata bertumpuk pada rangka kuda-kuda. Sirap dipilih karena ringan, mudah diganti per lembar, dan menahan panas siang tanpa menghantar getaran seperti seng.
Dinding dalam berupa papan tipis yang membentuk bilik-bilik barat dan timur. Beberapa ruang hanya dipisahkan kelambu, sehingga fungsi privat dan publik diatur tanpa tembok permanen.
Di Pulau Sumbawa, Istana Dalam Loka berdiri sezaman dengan Bale Sasaq, rumah adat suku Sasak di Lombok yang berbentuk panggung dengan atap alang-alang. Keduanya menerima pengaruh Islam lewat Kesultanan, tetapi arahnya berbeda: Bale Sasaq mengatur ruang tamu dan lumbung dalam satu susunan, sedangkan Dalam Loka menyusun ruang menurut jabatan kerajaan, dari lunyuk agung untuk musyawarah sampai bilik-bilik putra sultan yang sudah menikah.
Setelah Kesultanan Sumbawa berakhir, Bala Rea sempat telantar beberapa dasawarsa sebelum dipugar Direktorat Jenderal Kebudayaan pada 1979. Ancaman sekarang lebih halus: kayu jati asli sulit diganti sepadan, sementara kawasan sekitarnya tumbuh cepat menjadi pusat kota Sumbawa Besar. Konservasi kini bersandar pada batas cagar budaya, pemugaran serambi, dan penataan kawasan alun-alun, bukan pembongkaran bangunan lama untuk gedung baru.