
Rumah Emawa adalah rumah adat orang Mee di dataran tinggi Papua Tengah, terutama di Paniai, Deiyai, dan Dogiyai. Dalam bahasa setempat rumah disebut owaa, sehingga bangunan ini kerap dinamai Jame Owaa untuk laki-laki dan Yogamo Owaa untuk perempuan. Bentuknya rumah panggung kecil berdinding kayu dengan atap jerami atau alang-alang, didirikan mengikuti naik-turunnya muka air danau dan sungai di sekitarnya.
Bagi orang Mee, emawa adalah rumah kebenaran: tempat orang memperoleh pendidikan, membangun relasi, dan bersyukur atas kehidupan. Di dalamnya laki-laki belajar adat, berunding, dan mewariskan pengetahuan secara lisan dari generasi ke generasi. Rumah ini juga menjadi penanda identitas Mee Pago, wilayah adat yang kini menjadi nama alternatif Provinsi Papua Tengah. Ukurannya sengaja dibuat kecil agar penghuni tidur berdekatan dan tetap hangat di udara pegunungan yang dingin.
Atap ditutup alang-alang atau ilalang yang disusun rapat dan tebal. Lapisan ini meredam hujan pegunungan sekaligus menahan panas tubuh tetap di dalam ruangan kecil yang hanya dihuni sedikit orang.
Tungku api diletakkan di tengah ruang sebagai sumber panas utama. Asapnya keluar lewat celah atap, sementara bara menghangatkan penghuni yang tidur mengelilinginya pada malam dingin.
Dinding dari papan dan balok kayu lokal hampir tanpa jendela. Sedikitnya bukaan membuat panas dari perapian tidak cepat hilang dan melindungi penghuni dari angin gunung yang menusuk.
Pintu masuk dibuat kecil dan rendah sehingga penghuni harus membungkuk. Ukuran ini membatasi masuknya angin dingin dan hewan, sekaligus menjadi tanda hormat saat memasuki rumah adat.
Lantai ditinggikan dari tanah dengan tiang pendek menyesuaikan naik-turun air danau dan sungai. Kolong di bawahnya dipakai menyimpan kayu bakar serta barang yang harus jauh dari lembap.
Ruang loteng di bawah atap dipakai menaruh anak panah, busur, dan kayu bakar cadangan agar tetap kering. Bagian ini juga menambah insulasi panas di atas ruang huni utama.
Di dataran tinggi Papua Tengah, tiga rumah berdampingan dengan fungsi berbeda. Honai orang Dani berdenah bulat untuk hunian keluarga, sedangkan rumah Mee bergaya segi empat panggung dengan nama owaa. Orang Mee sendiri membedakannya lagi menjadi Jame Owaa untuk laki-laki, Yogamo Owaa untuk perempuan, dan Uguwo Owaa untuk keluarga. Di pesisir selatan, Gotad orang Marind justru rumah bujang berkaki pendek. Perbandingan ini menegaskan arsitektur Papua selalu menyesuaikan iklim dan peran sosial penghuninya.
Tantangan pelestarian emawa berat. Modernisasi mendorong warga Paniai, Deiyai, dan Dogiyai membangun rumah berdinding papan dan beratap seng, sehingga bentuk panggung beratap jerami makin langka. Alih fungsi lahan di sekitar danau serta penguapan air turut mengubah lingkungan yang dulu membentuk rumah itu. Upaya konservasi dilakukan antara lain oleh Dinas PUPR Paniai yang mengembangkan perumahan rakyat berbasis rumah adat, memadukan konsep modern dengan bentuk tradisional agar tetap layak huni dan tidak ditinggalkan.