← Atlas Rumah Adat Nusantara
Jawa Timur · Jawa

Rumah Joglo Jawa TimurTajug Lebih Lebar · Sinom

LIHAT MODEL 3D INTERAKTIF
ProvinsiJawa Timur
SukuJawa
Bentang± 18 m
Tinggi± 11 m
Rumah Joglo Jawa Timur — model 3D

Filosofi & Makna

Rumah Joglo Jawa Timur yang paling dikenal adalah Joglo Situbondo, rumah adat Provinsi Jawa Timur. Meski namanya Joglo, bentuknya berbeda dengan rumah Joglo Jawa Tengah, walau keduanya berbagi beberapa kemiripan. Rumah ini banyak dijumpai di Situbondo dan juga di Ponorogo; sesuai namanya, daerah Situbondo menjadi asal penamaannya. Kegunaannya adalah sebagai tempat tinggal, namun sebagian juga disimpan sebagai peninggalan bersejarah. Bentuknya khas sehingga mudah dibedakan dari rumah adat provinsi lain di Pulau Jawa.

Sesuai ukurannya, rumah ini tergolong tidak besar, berbentuk limasan atau dara gepak, namun bernilai seni tinggi. Tata bangunannya mencerminkan hubungan antarmanusia dan manusia dengan alam, dengan pengaruh sinkretisme agama dan kepercayaan Kejawen. Bahannya umumnya kayu jati murni karena dipercaya kuat dan tahan lama. Pondasi, tiang penyangga, serta tanah yang diratakan dan ditinggikan dari sekelilingnya menunjukkan kuatnya pengaruh budaya Jawa dalam pembangunannya.

Tata Ruang Dalam

Anatomi Bangunan

Atap Limasan (Dara Gepak)

Atap berbentuk limasan atau dara gepak yang mengerucut ke atas, bukan joglo bertingkat. Bentuk mengerucut ini digambarkan seperti gunung, simbol yang dianggap tinggi dan sakral dalam masyarakat Jawa.

Makara

Gerbang utama berhias sebelum ruang inti. Hiasannya memiliki fungsi tolak bala mengusir hal negatif, sekaligus menjadi penanda batas antara ruang luar dan ruang dalam yang lebih sakral.

Pendopo

Ruangan lapang terbuka di bagian depan sebagai simbol penyatuan dengan alam. Berbeda dari area rumah lainnya, melintasi pendopo tidak diperbolehkan sembarang orang. Ruang ini juga sering dipakai untuk musyawarah warga desa.

Peringgitan

Bagian pemisah antara bangunan depan dan belakang. Lorong ini dibiarkan agak lapang agar dapat dipakai memagel wayang kulit, sesuai asal kata ringgit. Namanya diambil dari kata ringgit yang berarti wayang dalam bahasa Jawa.

Senthong

Tiga kamar di belakang: senthong tengen, tengah, dan kiwo. Senthong tengah dianggap sakral, sementara dua lainnya menampung orang tua serta fungsi praktis rumah. Ketiganya disusun berurutan sesuai fungsi dan tingkat privasinya.

Kayu Jati

Bahan utama bangunan yang dipercaya kuat dan tahan lama. Selain struktur, kayu jati juga dipakai pada pintu, tiang, dan pembatas ruang agar bangunan awet. Kayunya juga dipakai membuat pintu dan pembatas antarkamar.

Detail yang Sering Terlewat

Konteks & Warisan

Rumah Joglo Jawa Timur berbagi akar dengan Joglo Jawa Tengah dan Yogyakarta, namun mengembangkan bentuk limasan atau dara gepak alih-alih joglo bertingkat. Ia juga bertalian dengan berbagai jenis joglo seperti Joglo Sinom, Lambangsari, hingga Joglo Kudus dan Pati yang tumbuh di kota-kota pesisir Jawa. Sinkretisme Hindu, Buddha, dan Kejawen sangat mewarnai tata ruangnya, sehingga urutan ruang dari pendopo menuju senthong mengikuti pandangan dunia masyarakat Jawa tentang keteraturan dan kesakralan.

Sebagai hunian, Joglo Situbondo kini jarang dibangun baru. Banyak rumah tinggal beralih ke konstruksi tembok dan atap biasa, sementara kayu jati makin mahal dan langka. Sebagian bangunan asli justru dibongkar dan dijual sebagai barang antik atau dipindahkan ke kawasan wisata. Upaya pelestarian mengandalkan peninggalan bersejarah yang dilindungi, replika di desa budaya, serta anjungan Jawa Timur di TMII. Dokumentasi arsitektur dan kesadaran warga menjadi kunci agar warisan tata bangunan ini tidak hilang ditelan modernisasi.

Sumber RujukanWikipedia ID “Rumah Adat Joglo Situbondo”; Wikipedia ID “Joglo”; Gramedia Literasi — Rumah Adat Jawa Timur.
ATLAS RUMAH ADAT NUSANTARA ← Kembali ke Atlas