
Kajang Lako atau Kajang Leko adalah rumah adat Provinsi Jambi, khususnya masyarakat Melayu Jambi dan Suku Batin di barat pegunungan Bukit Barisan. Nama Kajang merujuk pada atapnya yang menyerupai perahu terbalik, sedangkan Lako dikaitkan dengan nilai kebersamaan. Statusnya sebagai rumah adat resmi Jambi baru ditetapkan lewat sayembara “Sepucuk Jambi Sembilan Lurah” yang digelar Gubernur Jambi pada 1970-an. Pola ini menegaskan kedudukannya sebagai rumah adat resmi Jambi hingga kini.
Bangunan berbentuk persegi panjang berukuran sekitar 12 x 9 meter dan berdiri di atas sekitar 30 tiang kayu setinggi lebih dari dua meter. Tiang-tiang ini bersandar pada batu sandi agar tidak menyentuh tanah langsung sehingga lebih awet. Sebagian besar lantai terbuat dari bilah bambu yang disusun renggang supaya air dan udara mengalir bebas. Pintu masuknya sengaja dibuat rendah, sekitar 1,5 meter, agar tamu menundukkan badan sebagai tanda hormat.
Atap berbentuk perahu terbalik dengan ujung melengkung ke atas, dikenal sebagai potong jerambah. Dahulu berpenutup ijuk atau rumbia anyaman; kini banyak diganti seng agar lebih tahan lama.
Tiang kayu besi atau tembesu setinggi sekitar 4,25 meter yang menopang tubuh bangunan. Tiap tiang dipasang di atas batu sandi (umpak) agar kayu tidak langsung menyentuh tanah dan tetap awet.
Pintu masuk sengaja dibuat rendah agar siapa pun yang datang harus menundukkan kepala. Ukuran ini berfungsi sebagai etika penghormatan kepada pemilik rumah. Ukurannya dikaitkan dengan aturan tata krama Melayu Jambi.
Dinding samping berupa papan berukir motif flora bungo tanjung dan tampuk manggis. Ukiran tidak sekadar hiasan, tetapi menceritakan kekayaan alam sekitar. Motifnya juga menutup bidang sambungan papan pada dinding.
Lantai disusun dari bilah bambu renggang agar air dan udara mengalir bebas. Sirkulasi ini menjaga ruang tetap sejuk di iklim tropis lembap Jambi. Bambu dipilih karena mudah didapat dan tetap sejuk saat cuaca panas.
Batu alas tempat tiang berdiri, berfungsi menjauhkan kayu dari kelembapan tanah. Teknik ini memperpanjang usia bangunan panggung di kawasan dekat sungai. Susunan ini juga memudahkan penggantian tiang yang mulai lapuk.
Kajang Lako tumbuh di lanskap tepi Sungai Batanghari, sungai terpanjang di Sumatra yang menjadi urat nadi ekonomi Jambi. Pola rumah berjajar menghadap sungai atau jalan dengan lumbung padi di belakang mencerminkan masyarakat agraris. Sebagai rumah panggung, ia satu rumpun dengan Rumah Panggung Melayu se-Sumatra, namun bentuk atap perahunya khas dan tidak ditemui pada rumah Limas Sumatera Selatan.
Pelestariannya menghadapi tekanan alih fungsi. Banyak rumah adat kini tersisa sebagai replika di museum dan anjungan daerah daripada hunian asli. Penggantian material seperti ijuk menjadi seng dan bilah bambu menjadi papan mengubah karakter bangunan. Meski begitu, Kampung Lamo di Rantau Panjang masih dipertahankan sebagai contoh utuh, dan desainnya terus direplikasi pada kawasan budaya serta anjungan TMII sebagai identitas Provinsi Jambi.