
Rumah Kakik adalah hunian tradisional orang Moi di Sorong, Kabupaten Sorong, dan Raja Ampat. Dalam bahasa Moi rumah disebut keik, karena itu nama bangunan adat selalu berawalan kata tersebut. Bentuknya rumah panggung segi empat: tiang kayu nani atau kayu besi, dinding pelepah sagu (gaba-gaba) diikat tali rotan, lantai bambu belah, dan atap daun sagu. Rumah diperlakukan sebagai entitas hidup yang didirikan lewat rangkaian ritual adat, bukan sekadar tempat berteduh dari hujan dan panas.
Pembangunannya mengikuti aturan adat dan jarak dari hutan. Bagian depan dibiarkan terbuka sebagai teras untuk menerima tamu serta bermusyawarah, sedangkan bagian belakang lebih tertutup untuk dapur dan urusan keluarga. Karena orang Moi hidup dari berkebun dan mengelola hutan, keik juga menjadi tempat menyimpan hasil kebun, alat kerja, dan benda pusaka keluarga. Pendidikan adat berlangsung di bangunan tersendiri bernama Kambik yang didirikan jauh dari perkampungan agar para pemuda belajar tanpa gangguan warga.
Tiang dari kayu nani atau kayu besi ditanam dan diikat dengan talih rotan tanpa paku logam. Tingginya menyesuaikan permukaan tanah agar lantai tetap kering saat banjir atau tanah becek.
Dinding dibuat dari pelepah sagu yang disusun vertikal lalu diikat rotan pada rangka kayu. Tekstur garisnya rapat namun tetap berlubang halus sehingga udara tropis dapat mengalir keluar masuk ruangan.
Lantai memakai bambu yang dibelah dan diratakan, disebut pelupuh, atau papan kayu kasar. Susunan bilahnya memberi kepegas saat diinjak dan mudah diganti bila satu bagian rusak.
Atap ditutup daun sagu atau rumbia yang dilapis rapi dan diikatkan pada tulang atap. Lapisan tebalnya menahan hujan sekaligus menjaga suhu ruangan tetap sejuk sepanjang hari.
Teras depan dibiarkan tanpa dinding sebagai ruang semi-publik untuk menerima tamu dan bermusyawarah. Fungsinya memisahkan urusan adat dari area privat keluarga di bagian belakang rumah.
Pintu masuk rumah kadang diberi ukiran bermotif alam atau totem marga tertentu. Ukiran ini dipercaya menolak bala sekaligus menandai identitas keluarga besar yang tinggal di dalamnya.
Di Papua Barat Daya, tiga tradisi rumah berdampingan: Mod Aki Aksa orang Arfak dengan ribuan tiang kecil di pegunungan, rumah panggung keik orang Moi di pesisir Sorong, dan rumah terapung di kepulauan Raja Ampat. Ketiganya memakai strategi panggung, tetapi berbeda bahan dan bentuk sesuai lingkungan. Kakik bukan rumah tunggal, melainkan satu nama dari sekian keik berfungsi khusus, dari sekolah adat sampai gudang harta. Perbandingan ini menunjukkan bagaimana arsitektur Papua selalu tumbuh dari kebutuhan setempat, bukan dari satu cetak biru seragam.
Pelestarian menghadapi tekanan berat. Pendidikan adat Kambik berhenti sejak 1962, dan generasi terakhir yang mengalaminya tinggal beberapa orang tersebar di Sorong, Tambrauw, dan Raja Ampat. Ekspansi perkebunan sawit serta pertambangan menyusutkan dusun sagu, kawasan berburu, dan ruang hidup orang Moi. Bangunan lama banyak berubah memakai papan dan seng, sementara yang masih berdiri sering hanya berupa kerangka. Upaya konservasi kini bertumpu pada festival budaya, lembaga adat Malamoi, dan pengakuan wilayah adat lewat peraturan daerah.