
Rumah Musalaki adalah rumah adat suku Ende Lio di Kabupaten Ende, Flores, dan sejak lama dipakai sebagai lambang Provinsi Nusa Tenggara Timur. Namanya berasal dari kata mosa (ketua) dan laki (adat), sehingga berarti rumah sang ketua adat atau mosalaki. Karena itu rumah ini bukan hunian biasa, melainkan pusat musyawarah, tempat ritual tahunan seperti nggua mbama dan syukuran panen, sekaligus gudang benda pusaka kampung.
Bentuknya persegi empat dengan atap menjulang tinggi yang dipercaya menyerupai layar perahu, jejak cerita nenek moyang Ende Lio yang hidup dari pelayaran. Di puncak atap berdiri dua ornamen kayu: kolo musalaki untuk kepala rumah keda dan kolo ria untuk kepala rumah besar, keduanya diyakini terhubung secara spiritual. Bangunan tanpa sekat dinding ini ditopang empat tiang wisu berukir reptil dan binatang lain, masing-masing berbentuk lain antara kanan dan kiri.
Empat tiang kayu utama penyangga rangka, tinggi sekitar 120 sentimeter, bulat di bawah dan meruncing di atas. Tiap wisu diukir motif reptil berbeda, dan penampang serta ukirannya menjadi penanda rumah keda.
Tiang badan rumah setinggi sekitar 120 sentimeter di tengah, menyatu dengan tiang nok sepanjang 450 sentimeter. Keduanya dipasang lewat upacara adat Ende Lio, tidak sekadar dipasang tukang.
Lantai panggung dari bilah papan searah, dipasang agak jarang untuk mengalirkan udara dari kolong. Tinggi lantai hanya 60–100 sentimeter dari tanah, berbeda antara tenda teo dan koja ndawa.
Batu lonjong dipasang tegak di atas batu datar alami, bukan dibentuk manusia. Kolom kayu bertumpu di atasnya sehingga getaran gempa tidak langsung diteruskan ke bangunan.
Atap berlapis alang-alang (ki) yang diikat ijuk (nao) berselang-seling dari bawah ke atas. Puncaknya disebut ate ubu, sementara rangka kuda-kudanya bernama jara dan leke raja.
Flores punya beberapa tradisi rumah adat yang bersaudara. Di Manggarai ada Mbaru Niang berbentuk kerucut bertingkat, di Ngada ada sa'o yang berdenah memanjang, dan di Sumba ada rumah menara dengan batu kubur di halaman. Musalaki menempati jalur tersendiri: panggung rendah tanpa dinding dengan atap layar perahu, yang menautkan masyarakat Ende Lio pada cerita pelayaran nenek moyang dan pada struktur kepemimpinan mosalaki.
Pelestariannya bertumpu pada kampung adat seperti Wologai, Saga, dan Detusoko, yang sekaligus menjadi destinasi wisata budaya. Masalahnya muncul ketika alang-alang dan ijuk sulit didapat sehingga diganti seng, sementara konflik hak ulayat atas tanah adat masih terjadi di beberapa wilayah. Renovasi juga dipercaya harus lewat ritual, karena mengubah bentuk tanpa izin leluhur dianggap mendatangkan bencana bagi seluruh kampung.